Senin, 18 September 2017 - 10:18:03 WIB
FGD LABSOS KAMPUNG MADANI PROVINSI
Kategori: Program Unggulan - Dibaca: 259579 kali

Focus Group Disscusion (FGD) Laboratorium Sosial Kampung Madani di Provinsi Nusa Tenggara Barat yang dilaksanakan pada hari Kamis, 14 September 2017. Kegiatan yang dibuka langsung oleh Kepala Bakesbangpoldagri Provinsi Nusa Tenggara Barat dihadiri orleh 40 orang peserta yang asal pesertanya dibagi empat dari masing – masing lokasi pengembangan Labsos Kampung madani. Pada kegiatan ini masing – masing kabupaten secara bergiliran melakukan pemaparan tentang Awig – awig atau Peraturan Desa yang telah disusun sebelumnya, yang kemudian diberikan masukan oleh 3 orang Narasumber yaitu Kepala Bakesbangpoldagri Provinsi NTB Drs. H. Lalu Syafi’i, MM., Ketua Majelis Adat Sasak Drs. H. Lalu Mudjitahid dan Budayawan Drs. H. Lalu Anggawa Nuraksi.

Untuk Lokasi Labsos Kampung Madani yang ada di Pulau Sumbawa, Desa Bukitdamai dan Doropeti  Masih tahap awal penyusunan Awig – Awig / Peraturan Desa. Di Desa Doropeti, Peraturan yang disusun masih berupa SK Peraturan Desa yang kemudian diberikan masukan oleh para Narasumber agar dibuat lebih membumi lagi, dalam arti peraturan tersebut harus diambil dari kearifan lokal yang sudah ada di Desa Doropeti itu sendiri. Kemudian lokasi Desa BukitDamai sudah menyusun awig – awig/Peraturan Desa yang diambil dari kearifan lokal setempat, tapi diberikan masukan oleh para Narasumber agar lebih didetailkan dan dimantapkan lagi kebutuhan – kebutuhan, serta dibuatkan sanksi yang lebih berat karena di peraturan yang sudah dibuat sanksinya masih terlalu ringan.

Sedangkan untuk lokasi Labsosial yang ada di Pulau Lombok karena sudah dikawal penyusunan awig – awig/peraturan desanya dari awal tahun 2016 progresnya sudah berada di tahap akhir. Pada saat pemaparan oleh perwakilan dari kedua Desa lokasi Labsos yang ada di Pulau Lombok, Narasumber tidak memberikan masukan pada esensi dari awig – awig/peraturan desa tersebut tapi lebih ke makna kata – kata yang menggunakan bahasa daerah setempat. Sebagai contoh untuk awig – awig Desa Kuta diberikan masukan untuk mengoreksi arti dari kata “merang”. Sedangkan untuk Desa Sesait ada beberapa point yang sempat dikoreksi yaitu :

  1. Pasal 31 perlu dipertajam supaya lebih jelas, agama kita junjung tinggi, diatas segala-galanya, bukan budaya sasak kalau bertentangan dengan agama;
  2. Nyongkolan juga dipertajam misalnya dijelaskan wirase, (pengaturan waktu nyongkolan dengan jadwal shalat), kalau bedug sudah bunyi segera lepas pekerjaan menuju shalat. Wirage, wirame (kesenian ritual yg bisa dipakai dlm nyongkolan)
  3. Redaksinya disesuaikan;
  4. Perkawinan antar agama ditempatkan di tempat netral (ada aturannya dan masih berlaku).

Tetapi karena waktu yang sangat terbatas dan point peraturan yang tidak sedikit, narasumber belum bisa memberikan masukan secara lebih detail dan spesifik.  Jadi untuk selanjutnya penyempurnaan awig – awig/Peraturan Desa akan dilakukan di waktu yang akan datang pada FGD kedua yang akan dilaksanakan pada triwulan ke IV ataupun melalui jalur pribadi antara Narasumber dan tim penyusun dari masing – masing lokasi Labsos.




0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)