Kewaspadaan Dini dan Kerjasama Intelejen
Menjadikan Perempuan Agen Perdamaian dalam Pencegahan Radikalisme dan Terorisme

Ancaman radikalisme rupanya membuat negara harus benar-benar awas. Terlebih pola sebar paham ini sudah bermetamorfosis dengan beragam cara.
Ketua Forum Komunikasi dan Pencegahan Terorisme (FKPT) NTB, HL Syafi’i mengatakan, metamorfosa yang dilakukan faham radikal ini benar-benar menjadi atensi. Penyebaran faham kekerasan serta indoktrinasi tidak saja dilakukan secara tatap muka.
“Hebatnya faham ini sudah bisa menggempur pertahanan kita sampai ke bilik rumah tangga. Ia menyebar lewat gawai internet dan media sosial,” ungkapnya, Rabu (21/10).
Karena metamorfosa macam itu, terangnya, sangat dibutuhkan peran perempuan sebagai ibu rumah tangga ya.g membimbing anak-anaknya. Bimbingan itu bisa dalam bentuk pengawasan terhadap konten-konten yang patut disajikan terhadap anak.
Menjadi catatan, ungkapnya, NTB merupakan mata rantai jaringan terorisme di tanah airl. Ini dibuktikan setiap kali ada peristiwa pengeboman di tanah air, nyaris para pelakunya ada saja yang dikaitkan berasal dari NTB.
Beberapa jaringan yang sempat membonceng nama NTB misalnya seperti kehadiran Jamaah Ansori Tauhid (JAT) dan yang lainnya. Dengan posisi itu, warga NTB hendaknya selalu lebih awas terhadap faham tersebut.
Keberadaann radikalisme dan terorisme, jelasnya, menjadi ancaman nyata bagi negara. Kerap kali dalam faham yang disebar menyebut pemerintah dan aparat kepolisian sebagai thogut (setan) yang harus dimusuhi.
Apa yang dilontarkannya disebutnya bukan isapan jempol semata. Dalam 3 tahun terakhir saja, negara sudah melakukan lima kali penangkapan terhadap aksi dan faham radikalisme ini.
Senada disampaikan akademi UIN Mataram, Atun Wardatun. Pola pengawasan dan bimbingan terhadap anak disebutnya sangat penting diperhatikan. Ini karena faham radikal telah merangsek masuk sampai ke dalam rumah tangga.
“Karena itulah dibutuhkan kenapa ibu-ibu atau perempuan menjadi agen perdamaian,” ucapnya.
Menyadari bahaya radikalisme ini, Atun sendiri telah menggalang gerakan yang dinamakan La Rimpu (Sekolah Rintisan Perempuan). Gerakan ini melibatkan ibu rumah tangga dan para milenial.
(JejakLombok)



